Job Career Vacancy
Latest News

Gaya Kepemimpinan Baru Versus Status Quo Yang Didukung Rakyat

Posted by Gilang Ramadhan on Selasa, 17 November 2009 , under | komentar (0)



Oleh: Gilang Ramadhan IP'05
Pembentukan Mental
Bangsa indonesia yang dijajah bangsa belanda selama ratusan tahun ternyata banyak menyisakan warisan-warisan yang “berharga” diantaranya adalah mental yang membentuk kepribadian bangsa ini. Dahulu bangsa belanda tidak memperbolehkan orang pribumi untuk bekerja kecuali kerja kasar dan mengenyam pendidikan yang layak, orang pribumi hanya diajari bagaimana caranya menjilat dan membuat senang pimpinan, kerja pun tak harus efektif asalkan laporan hasil kerja baik maka pekerjaan pun “dianggap” baik. Akhirnya sikap malas berusaha, hipokrit, dan mental buruk lainnya yang sampai sekarang masih menggerogoti kemajuan bangsa ini yaitu mental menyalahgunakan wewenang atau korupsi.
Peran Media
Saat ini rakyat indonesia sudah benar-benar dimanjakan oleh bebasnya media dalam mengeksplorasi berita, dalam hal ini secara tidak langsung mental di atas turut andil dalam membentuk opini publik. Media terus menerus mengekspos pemberitaan mengenai keadaan pak Harto sejak beliau sakit sampai beliau wafat. Pemberitaan yang disuguhkan media seakan-akan mengembalikan kembali kejayaan sang penguasa tersebut setelah hilang dari kancah politik sejak mei 1998,hampir seluruh stasiun TV menayangkan keadaannya bagai seorang yang kembali dari pertapaannya. Pemberitaan yang bertubi-tubi tersebut seakan telah menghilangkan secara perlahan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh beliau, akhirnya karena mental malas untuk mencari pembenaran ditambah romantisme yang berkepanjangan karena lamanya durasi kepemimpinan pak Harto lalu pemberitaan yang membombardir maka hilanglah segala yang pada masa reformasi telah diperjuangkan dengan darah.
Peran Pemegang Status quo
Mental bangsa indonesia yang termanifestasi di dalam pembentukan frame of reference dalam memahami suatu fenomena ditambah media kuranglah lengkap untuk membentuk suatu opini publik yang diinginkan, selanjutnya adalah dukungan dari pemegang status quo yang berkepentingan dalam menggiring mass opinion. Inilah kekuatan massif yang terlihat seakan-akan mengindividu, terlihat dari pertama seorang tokoh pemimpin fraksi suatu partai di DPR yang mengusulkan gelar pahlawan untuk pak Harto, kemudian setelah media mengarahkan wacana tersebut dan menggema di khalayak timbullah opini-opini lain yang sama dan menguatkan opini orang pertama tadi, maka kekuatan pemegang status quo tadi akan bertambah seiring dengan berjalannya waktu untuk mengulingkan kekuatan baru yang menginginkan pembaharuan.
Kemungkinan besar setelah semakin mendapatkan kekuatan opini publik ditambah menunggangi sosok seorang yang besar karena “diselamatkan oleh keadaan” maka kekuatan status quo tadi akan tetap ada dan memegang peranan penting dalam pemerintahan dan akan tetap selalu mengatur bahkan mengkounter kekuatan-kekuatan politik lain yang berusaha menampilkan gaya kepemimpinan baru yang mungkin berindikasi bisa merubah peradaban bangsa indonesia menuju ke arah yang lebih baik. Pak Harto adalah status quo yang telah tiada namun akan selau ada orang orang yang akan tetap mempertahankan status quonya untuk setidaknya tetap barada di pucuk pimpinan di dunia politik. Seharusnya pemerintah yang sekarang berkuasa merasa cemburu saat rakyat masih mendukung bahkan mencintai pemegang status quo, bahkan masih harus membenahi diri dan mempertanyakan apa yang kurang pada pemerintahannya dan mencoba untuk tampil lebih baik dari kepemimpinan sebelumnya, setidaknya memberikan sesuatu kenangan yang indah yaitu demokratisasi yang diiringi dengan pencerdasan pelakunya sehingga melahirkan kesadaran berpolitik yang tinggi dan menjadikan kearifan bangsa sebagai pangkal dalam kearifan berpolitik. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan SBY dalam mencerdaskan bangsa ini dan mencabut sampai akar-akarnya mental bobrok bangsa ini,bukan malah mempertahankannya demi kekuasaan, rakyat bukanlah milik status quo apalagi menjadi pendukungnya, rakyat adalah milik perubahan karena dinamika hidup selalu berubah, itulah gaya kepemimpinan baru yang seharusnya diimpikan.

Demokrasi Menggugat; wujud transformasi demokrasi bagi Indonesia.

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)




Oleh: Gilang Ramadhan IP 2005
Tak aneh jika kita melihat sekelompok orang meneriakan slogan-slogan keadilan, demokrasi, kesejahteraan, dll. Sambil merusak pagar, membakar ban, melempari petugas bahkan melakukan penjarahan dan perusuhan. Lalu apakah itu yang disebut demokratis? kemudian sekelompok mahasiswa yang notabene sebagai the opinion maker melempar isu kepermukaan tanpa tahu pasti kebenaran dibaliknya, tanpa investigasi dan penggalian fakta. Apakah itu yang disebut demokratis? Juga para decession maker yang memaksakan kebijakannya tanpa melalui proses referendum yang mengaffirmasikan concern politiknya saja tanpa mengonsiderasikan kepentingan umum. Saat pesta demokrasi selalu diwarnai dengan kerusuhan dan pengrusakan fasilitas public karena calon pemimpin pilihannya kalah. Apakah itu yang disebut demokratis? Lalu apa sisi yang baik dari demokrasi sehingga Negara-negara maju begitu mengagung-agungkannya? Ataukah bangsa Indonesia sendiri yang terlalu tidak menghargai proses, sehingga hanya menginginkan sesuatu yang instan?
Menurut Nurcholis Madjid pada jaman Orde Baru yang berezim otoriter Indonesia telah mencapai stabilitas social politik, dengan merujuk pada ilmuwan politik Belanda Arend Lijphart, bahwa stabilitas politik secara otomatis pasti memiliki watak demokratis sebab stabilitas yang tidak demokratis tidak lain hanyalah penampakan luar saja, yang didalamnya mengandung bibit-bibit kekacauan ibarat bom waktu (Madjid 1985a: 12). Di dalam pendapatnya Cak Nur lebih menekankan adanya stabilitas politik sebagai suatu prasyarat dari terciptanya demokrasi. Tetapi juga keadaan stabil atau keajegan yang dipaksakan juga akan menimbulkan kekacauan di masa datang seperti bom waktu. Jadi, stabilitas social politik dan demokrasi menurut penulis malah tidak bisa dipisahkan, demokrasi adalah masalah selera apabila kepentingan sudah terpenuhi maka dengan sendirinya stabilitas tersebut akan muncul, begitu juga dengan stabilitas social politik akan terwujud apabila demokrasi berjalan dengan baik.
Demokrasi disusun oleh dua pilar yang tak terpisahkan yaitu hukum dan ekonomi, kepastian hukum dapat terpenuhi apabila keadaan ekonomi di Negara tersebut stabil, Ekonom Didin S. Damanhuri menyatakan “Model social –demokrat dapat merupakan referensi penting dalam rangka demokratisasi pemikiran ekonomi sekaligus mendorong demokrasi ekonomi dalam arti nyata di negeri kita Indonesia tercinta (Damanhuri 1990: 87). Keadaan ekonomi tidak dapat stabil begitu saja tanpa adanya kepastian hukum, seperti peraturan tentang investasi, peraturan tentang kebijakan pasar (market policy), dll.
Sebenarnya yang menjadi masalah di Indonesia bukan pada demokrasi dalam arti luas, tetapi demokrasi dalam arti sempit dalam artian mengikuti implementasi demokrasi dari Negara lain. Sebagai contoh para aktivis berpendapat bahwa dengan adanya people power seperti di Filipina yang melakukan revolusi berdarah dapat mendirikan demokrasi yang sebenarnya ke dalam tempatnya yang tertinggi yaitu kekuasaan rakyat, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dengan pemikiran seperti itu maka kekerasan menjadi hal yang wajar dalam mewujudkan demokrasi, yang mengarah pada brutalisme. Padahal itu adalah suatu fase yaitu tahap penggulingan rezim yang otoriter, tetapi membangun demokrasi adalah sesuatu hal yang sangat berbeda. Pengalaman Negara lain dapat pula memberikan ide yang terkait dengan fase ini dalam proses demokratisasi, tetapi tidak selazim ide-ide tentang penggulingan otoriterianisme, dan ide-ide semacam itu tidak sesuai dengan tuntutan gerakan prodemokrasi di Indonesia.
Menurut Deliar Noer, tidak ada model demokrasi asing yang cocok bagi Indonesia, tetapi prinsip-prinsip tertentu (misalnya pemerintahan tanpa korupsi, pers bebas, dan HAM) dapat dipinjam dari berbagai Negara. Indonesia harus memilih apa yang cocok bagi negeri ini (wawancara 17/05/94) menurut Arief Budiman seorang demokratik sosialis, beberapa pelajaran umum dapat diambil dari Negara-negara lain, tetapi tidak mungkin meniru, misalnya peristiwa di Filipina dan Thailand. Masyarakat Indonesia jauh lebih Heterogen (menyangkut etnis, agama, kelas) dibanding Negara-negara lainnya di Asia Tenggara. jadi, demokrasi seharusnya merupakan sebuah manifestasi dari kebudayaan bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kebangsaan, karena demokrasi merupakan referendum bersama, apabila musyawarah dirasa paling merepresentasikan kepentingan-kepentingan bersama maka itulah demokrasi karena demokrasi itu apa yang dirasa cocok dan sesuai selera, tanpa meninggalkan belajar dari pengalaman Negara-negara lain dan bukan dengan meniru. Demokrasi hanyalah sebuah rename bukan redesain dari budaya yang telah mengakar di nusantara sejak lama, maka kekerasan, pelanggaran HAM, otoriterianisme, dan anomali-anomali lainnya yang akhir-akhir ini berkembang di Indonesia terjadi bukan karena kesalahan demokrasinya, tetapi karena kita telah melupakan nilai-nilai penting yang seharusnya menjadi pondasi bagi berkembangnya demokrasi di Indonesia.

Bertumpu pada batu, berkaca pada hidup

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)



Guys! Tentu kalian semua tau dan pernah melihat batu, entah di jalan, di sungai atau mungkin terselip di balik sandal yang kalian pakai?, ya itulah batu nankeras, hitam, dengan bentuk yang tak pernah simetris dan selalu di balik bayangan manusia alias gak pernah diperhatiin. Kalo kita sedang jalan kaki tentu setiap hari pasti kita menginjak batu dari berbagai ukuran, mulai dari yang kecil atau yang sudah dimodifikasi (semacam paving block) sampai yang paling besar (di perut bumi), tapi guys pernah gak sih kalian perhatiin walau sekejap (ciee..) apa jadinya hidup tanpa ada batu? Wah pasti gak kebayang friend. Tau gak sih? Bumi itu sebagian besar terdiri atas batuan yang berlapis –lapis, mulai dari lapisan lunak sampai lapisan yang keras yang kita injak sehari-hari, trus batu pula merupakan bahan yang paling berperan penting dalam struktur materi bangunan apa pun mulai dari rumah, jalan, gedung bertingkat, jembatan sampai patok kuburan (hiiii..), kalian juga tau kenapa di sungai banyak terdapat batu-batu? Ternyata jika di sungai gak ada batunya alias plong aja erosi yang disebabkan arus sungai akan membawa tanah yang berada di dasar sungai menuju lautan tanpa ada penyaringnya karena menurut hukum fluida, cairan yang mengalir akan menyebabkan arus yang menimbulkan adanya gesekan pada dasar sungai dan wal hasil ga kebayang deh gimana nasib daratan dan sirkulasi air yang terjadi di dalamnya dan gak akan ada bagian nosel di sungai yang biasa dijadikan manusia sebagai tempat yang cocok untuk bendungan karena memiliki aliran deras yang cocok untuk menggerakan turbin dari generator pembangkit listrik, termasuk biota ikan salmon yang bernaung pada batu saat musim bertelur tiba, pasti mengerikan jadinya bro!
Itulah guys beberapa kegunaan dari batu, lho kita koq jadi ngomongin batu?!? Bukan itu yang menjadi intinya, kalo gitu aja mah jadi belajar geologi , tapi sekarang coba kalian pikir dulu deh, apakah batu pernah mengeluh pada Tuhan karena selalu dieksplorasi oleh manusia setiap harinya, tanpa manusia pernah sadar siapa itu batu, tentu tidak kan? Batu tetap saja diinjak tanpa rasa pri-kebatu-an dan tidak diperhatikan, tetap hitam dan tetap berbentuk asimetris semaunya.
Tapi saya nulis ini bukan agar kalian tiba-tiba jadi mencintai batu, menimang-nimangnya, apalagi memikirkannya, bukan itu bro! batu tetaplah batu. Nah sekarang kita ke permasalahan tentang korelasi kurva di atas dengan pokok bahasan kita yaitu merefleksikan fenomena batu tadi dengan hidup kita, the question is, sanggupkah kita yang sudah merasa hebat bisa seperti batu yang mempunyai filosofi “rendah tetapi tinggi”? pujangga arab pernah berkata: “orang yang tawadu’ bagai genangan air yang selalu berada di bawah, tetapi pada hakikatnya dapat memantulkan cahaya bintang yang sebenarnya berada di tempat yang sangat tinggi, dan orang sombong bagaikan asap yang membumbung tinggi tetapi hakikatnya akan hilang kemudian”. Tuh, jadi tambah kacau kan? Dengan sombong memang kita bakal kelihatan hebat tetapi sesungguhnya semua akan menghilang musnah dan jatuh dalam kehinaan alias pongah, tapi lihat manusia yang memiliki sifat tawadu’ dia selalu menganggap dirinya bukan apa-apa dibanding yang lain padahal dialah the real star! Not a smoke which lost in the sky. Selain mengajarkan tawadu’, ciptaan tuhan itu (batu.red) juga mengajarkan kita arti berkorban tanpa rasa pamrih. Bro, please deh sebenernya apa yang kita harapkan dari pamrih? Pujian? Di elu-elukan? Ah itu mah Cuma sementara, ntar juga orang kembali gak merhatiin kita, gak mungkin kan orang mau memuji kita setiap hari sepanjang masa? Apa orang yang ditinggikan karena kredibilitasnya? Itu pun tidak berlangsung lama –seperti fenomena AA Gym—karena hakikatnya gak ada yang kekal abadi kecuali orang-orang yang diberikan julukan oleh tuhan dengan title “ikhlas”, pasti abadi dan sepanjang masa.
Jadi fren, berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan tanpa memikirkan kompensasinya (kecuali kerja, kudu digaji atuh!) karena semua itu adalah benih yang kita tanam untuk kita panen di akhirat kelak. Dan ingat! Tetap tawadu’ sehebat apa pun kalian, karena tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya sebesar biji zarrah (debu) dari kesombongan, karena orang sombong termasuk orang yang mendustakan agama, karena Tuhanlah yang patut sombong, bukan kita! Terakhir, transformasikan dirimu guys, semoga kita termasuk orang yang senantiasa dibukakan pintu hatinya (amien).

hidup dan berbuat

Posted by Gilang Ramadhan on Senin, 02 November 2009 , under | komentar (0)




saat kumenatap jauh untuk berjuang
bahkan tatapan itu terhalang oleh bola mataku yang minus
saat kumenatap dekat tuk berhenti sejenak
benakku menghalangiku karena waktu terus mengejar
hidupku selalu berliku tanya tentang apa yang akan terjadi
jika aku berbuat sesuatu
atau tidak berbuat sesuatu
namun kuyakin tak ada yang sia-sia dari perbuatan
entah itu salah ataupun benar
itu adalah akibat
dan akibat itu mendekati suratan yang kita miliki masing-masing saat di lauh mahfuz
apa itu suratan?mengapa itu sangat penting?
suratan bukanlah segalanya namun pasti
seperti kau yang menaiki kereta api
kau menentukan sendiri kemana kau akan pergi
namun kereta yang kau tumpangi tak bisa melanggar jalurnya
itulah suratan....
saat kau berjalan dari rumah menuju stasiun kereta
itulah perbuatan....
mana yang kau pilih?
untuk berbuat atau terus mempertanyakan jalan yang akan kau pilih

Pertempuran Hati

Posted by Gilang Ramadhan on Jumat, 30 Oktober 2009 , under | komentar (0)




kata-kata yang indah mungkin tak sulit untuk diungkapkan
seperti bicara siang pada saat malam
atau bagai malam hari yang lelap karena lelah
tapi merasakan apa yang terucap teramat sulit
seperti bocah berkicau kata-kata yang tidak dimengertinya
atau memanggil hujan yang seyogyanya tugas Tuhan
aku bukan merapal
atau meracau saat kubicara cinta padamu
aku merasakan panas
aku merasakan dingin diwaktu yang sama
itu sebuah pertempuran sayang,
pertempuran yang amat berat untuk memilih diantara beribu peluang
bahkan hatiku sendiri.....
namun....
mengapa saat telah kubuktikan semua
kau malah meracau
kau seperti merapal mantera
kau seperti bocah
kau seperti siang yang menyengat.......
itukah yang bernama melankolis yang teramat coleris?

Elegi Roda berjalan

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)




Kita semua menyaksikan pertemuan
dan pasti menyesakkan perpisahan
namun hidup merupakan stasiun kereta
tempat bertemunya rel-rel besi
yang mengantar manusia untuk menemui atau berpisah
dari orang yang dikenalnya....
apa arti perpisahan?
tidak selamanya perpisahan menyedihkan
tidak selamanya kita mengutuki perpisahan
jika kita mendapatkan pelajaran indah
dibalik peristiwa itu....
tidak selamanya pertemuan menyenagkan
tidak selamanya kita menyenangi pertemuan
jika kita mendapatkan pelajaran pahit
di balik peristiwa itu....
kita semua roda-roda berjalan
yang mengiringi langkah manusia
sampai roda itu berhenti dan diganti dengan yang baru...

kapitalisme dunia dan islam

Posted by Gilang Ramadhan on Sabtu, 25 Juli 2009 , under | komentar (0)



Apa substansi dalam sistem kapitalisme global dan kaitannya dengan ajaran islam?
pada masyarakat yang menganut kapitalisme menggunakan paham yang disebut liberalisme sebagai implementasi dari individualisme, tenet yang terdapat dalam liberalisme sebagai pondasi dari kapitalisme adalah rasionalisme, materialisme, riset, meliorisme, yang melahirkan idealisme hari ini harus lebih baik dari kemarin yang dapat memotivasi produktivitas kerja dan kompetisi yang ketat dan yang terakhir adalah demokratisasi sebagai tonggak utama dalam liberalisme, karena dalam paham liberalisme menentang adanya penguasaan aset-aset bisnis oleh negara dan persaingan tanpa pengawasan dari negara. pada sistem kapitalisme adanya kredit mutlak ada, karena kredit berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi, kemampuan untuk meminjam lebih besar merupakan investasi untuk mendapatkan keuntungan. namun adanya kredit terutama bagi negara-negara berkembang merupakan ajang bagi kepentingan adidaya untuk mendikte kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah negara yang berhutang, khususnya kebijakan investasi dan eksplorasi kekayaan alam yang dijadikan jaminan. pada kapitalisme juga terbuka wacana tentang sistem finansial internasional, lembaga-lembaga finansial internasional yang bekerjasama dengan otoritas moneter nasional saat terjadi krisis, yang saat ini diwakil oleh IMF sebagai pemelihara sistem perbankan internasional. yang intinya ingin membuat dunia dalam kekuasaan satu rezim kuat yang menguasai keuangan global__yang lazim disebut kerajaan abstrak__
pada poin-poin di atas, sebenarnya sebagian penerapan sistem kapitalisme dekat dengan ajaran islam__diluar konteks teori yang dipraktekkan oleh kapitalis__islam mengenal sistem khilafah (pan-islamisme) yang menginginkan dunia dalam satu imperium kerajaan islam, namun meliputi semua aspek, sedang kapitalisme hanya mewakili aspek ekonomi. dalam kapitalisme dikenal adanya masyarakat terbuka sebagai prasyarat adanya globalisasi/ dalam konteks islam dikenal adanya silaturahmi (hubungan antar negara), World Bank sebagai pengatur perekonomian dunia agar mencegah terjadinya penguasaan aset publik oleh negara dan menjamin kebebasan individu untuk bersaing dalam usaha, pemberian pinjaman bagi kompetitor yang kurang mapan bersaing karena tidak memiliki modal cukup (namun dalam islam tidak dikenal bunga yang dikenal adalah sistem bagi hasil) kepastian investasi usaha usaha dengan hukum yang pasti tentang pengaturan perijinan dan pelarangan eksplorasi secara berlebihan, akhirnya tak ada masyarakat yang berpangku tangan __zaman khalifah Harun Al Rasyid zakat tidak diperlukan karena masyarakatnya sudah makmur__namun, jauh panggang dari arang, jauh teori dari kenyataan, lagi-lagi kepentingan individulah yang lebih berperan sehingga tidak memikirkan keruntuhan orang lain yang menyebabkan semakin lebarnya kesenjangan negara miskin dan kara, antara dunia pertama dengan dunia ketiga. dan lebih disayangkan lagi perusahaan-perusahaan multinasional yang seharusnya menjaga stabilitas ekonomi dunia adalah penyumbang terbesar kehancuran dunia, yaitu penyokong senjata bagi negara-negara Adidaya demi kepentingan gold, glory, dan gospel mereka. hal senada dikemukakan Dr. Yusuf Qardlawi bahwa globalisasi merupakan westernisasi dunia atau Amerikanisasi dunia yaitu sebuah eufimisme dari penjajahan model baru Amerika terhadap negara-negara dunia ketiga khususnya perluasan filsafat materialistik sebagai tenet dari liberalisme.