Latest News

rata

Posted by Gilang Ramadhan on Jumat, 29 Mei 2009 , under | komentar (0)



halamanku, rumah seorang pesakit
yang dinaungi beban langit yang hampir runtuh,jika
aku, dia dan yang tak memiliki jiwa mau mengakui, bahwa
terlalu banyak kontur dalam hidup, bukan
memiliki laut dan camar yang melewatinya, karena
aku, dia dan yang tak memiliki jiwa bukanlah investor alam, tetapi
rabb tak pernah mengakuinya, dan
aku bukan seorang komunis……

karung

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)



tak tertata apalagi menengadah pamer
bukan ruh yang menyinari dunia yang tak berbicara
lagi-lagi senyum cerah menghiasi saat ku dipakai lomba 17-an
itulah….dunia indahku
tidak seperti kau sutera hijau
tertata rapih dengan mahkota perak yang anggun, namun…
lagi-lagi wajah angkuhlah yang menghiasi saat kau di catwalk
Rabb….Syukurku padamu

aku

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)



Aku bukan rumput yang merunduk karena dibasahi embun
aku bukan awan yang hitam karena mendung
aku bukan laut yang pasang ketika malam
aku bukan hidup yang mati saat ajal
aku bukan dia apalagi mereka
aku bukan saksi dari kenyataan
aku……..dirimu yang mengenalku?

mungkin

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)



telaga biru, dahagaku mungkin kamu…
dua bilah kayu sumpit, atau pedang dengan matanya mungkin jalan kita…
bunga sakura yang indah karena tertiup angin, mungkin aku denganmu…
terotoar dan orang gila yang tertidur di atasnya, mungkin kenyataan…
dalam dua ada satu-satu yang mungkin berjiwa sama
mungkin juga berbeda!

half past

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)



sunyi,sepi yang menguak di tapal batas gelap

seberkas sinar yang baik datang tapi malu-malu lewat kelambu

jika kubuka tabirnya maka putih cantik mukanya bukanlah angan,

tapi obat malam yang menyinari mata…

jika senja hari tak gelap,tentu ku tak akan melihatmu

bercanda dengan hidup,lalu pergi saat penjaga malam pulang

tapi,mengapa malam ini kau tak datang?

rindu

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)



saung kecil di tengah hamparan sawah, terlihat cantik dan kekar dari jauh

jenguklah sejenak maka kau akan menemukan kerapuhan sejati

diteriaki rayap-rayap jahat

disapu hujan dan terik matahari

itulah kerinduan sejati, berawal dari keteguhan untuk tetap konsekuen

lalu terjebak dalam pilihannya, dan hancur perlahan

satu pertanyaan: adakah cinta yang mencegah kehancuran?

satu jawaban : rindumu pada tuhan 90%, dan orang yang kau cintai 10%

terjemahkan menurut dirimu

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)



apa yang kau rasa dari sesuatu yang memaksa?
ketika pertentangan mulai menampar pada satu sisi dan sisi lain kelembutan yang mematikan..
adalah hidup jika kau terus mengayuhkan kaki
lalu memutar otak tuk tetap mawas diri
jika kau rapuh…apakah cinta dapat kau harapkan tuk bangkitkanmu,
atau penuntunmu saat kau buta?
atau sekedar formalitas yang membosankan???
aku si cauvinis yang menentang orang lain tuk merasuk di diriku, apalagi hatiku!!!
kecuali jika ia bisa menonjokku telak, dan mewarisi kekasaran ares!
makna, temukanlah hidup jika kau punya cinta

jalan hati

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)



jika awan tak meluruskan niatku
maka aku akan paksakan bumi mendengarku
jika bumi angkuh tak bergeming
maka kucaci lautan tuk memudarkan birunya
bila laut tenggelamkanku
maka aku hanya memiliki satu cara
satu jalan
mendengarkan hatiku…..

DIA

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)



mengapa hidup berubah
mengapa hati tak sanggup berkata
tuk sekedar mengucapkan
aku kesepian
sahabat
teman
dan kasihku
semua hanya datang mengikuti arus waktu
lalu semua menghilang
hanya DIA
harapku tuk temani
janji, harapan dan anganku pada DUNIA

tak berharap

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)



baris berbaris menjaga harapan

dukung mendukung menghalangi musuh melaksa

jika aku menjadi tanah mungkin akan malu jika yang “menginjakku” ternyata juga saling menginjak sesama

jika aku menjadi awan mungkin akan murka jika yang menatapku hanya mendoa untuk merendahkan sesama

aku bersedih saat menjadi batu yang hanya diempar lempar untuk mencari kesalahan dan menyakiti sesama

aku pun berdoa mengharap, tak menjadi alat yang dipertuan atau benda terhina yang dilukai

aku hanya anak kecil yang berharap ibu kan datang dan menimangku penuh sayang

simponi jiwa

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)



menitik pada satu titik, saat berat menahan satu jerat, letih menilih pedih saling silih, antara satu hidup di lain mati

tatap pandangan kosong melompong, di antara pilar2 gedung yang merenta, sepadan namun tidak tercermin keindahan, terselip satu retakan kecil, di bawah tumpukan diktat

matiku tak sepadan denganmu, mungkin di antara usia yang direnggut bersamamu, kala ku mulai menulis sajak saat beranjak, semua kukunci rapi mati dalam hati, dan kau kuncinya sayang….

pelataran parkir yang luas mulai nampak, sepi mengisyaratkan satu hati…tercabik…oleh hilir mudik kendaraan, dengan suara bising dan dandanan serasi, diiringi kaki-kaki yang memaki!

sebagai mikrokosmos yang selalu gagal, dalam setiap eksperimen waktu yang menggebu, bukanlah suatu daya cipta yang sakti…namun lelah dengan semua ke-kalah-an

dan menang sebagai pecundang…

hitam

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)



hitam, bukan raga tersayat sembilu, haus, walau biru busuk.

hitam, senjaku di peraduan malam, hilang, akankah?

hitam, kutelusuri batin diriku kini, gelap,,,walau di tengah cakrawala membahana.

hitam, tengoklah langit luas nan cerah!!

hitam, pulanglah ke dasar kerak bumi!! tapi,

hitamku tak seburuk mencerca neraka,

hitamku bukan mauku, namun diriku

hitamku selalu hidup dalam sanubariku, berjalan di tengah kekosongan hatiku, menggeliat bagai jalang malam, pekat tak bersayap….

namun, merobek cakrawala dengan lelahnya sang surya,,,,

hitam, empedu hitam nan melankolis

dengan segala kelembutannya, kepesimistisannya, kehancurannya,,,

namun, dapat menyaring sang-sanguis nan sanguinis

yang hidup, tak tentu arah, dan merah!!

Buaian sang malam

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (2)



Raut wajah senja merona merah kehitaman

pasir berbisik lirih di bawah asuhan ombak

meluluh dijilati rintihan-rintihan kecil air

yang mengalir bercumbu mesra dengan penghuninya

gesekan-gesekan angin mulai menyayat telinga

saat terbuai lara dalam nada bicaranya

lambaian dedaunan bakau nan eksotik

merindukan tangan-tangan kasih

percikan sinar rembulan yang terang temaram

menyulutkan nyali sang pengembara malam

untuk turun bertarung dengan berkubik limpahan air

dan bertemu peri-peri kecil jelmaan kuasa pencipta

yang turun dan memberi senyuman tipis

walau sekejap

retakan2, gesekan2, dan bulir2 air yang mampir menyapa

seakan menampar tabir2 mimpi di ambang maut

untuk sekedar seulas tawa di balik luka

karena mimpi membawaku lebih hanyut dalam

gumpalan pekat legam mulut sang petaka malam

turunkanku lebih dalam!!!

siluet sinar2 kecil mengerlingkan matanya

di atas pangkuan debur ombak membuncak

terus berputar2 indah hingga ke dasar terdalam

hingga………..

hidup dan cinta

Posted by Gilang Ramadhan on , under | komentar (0)



cintaku sepenggal roti kukus, kubuat selembek mungkin agar mudah dicerna, sekedar menghibur tenggorokan, namun tidak bikin kenyang, mungkin dia langsung berkata…..habis ini aku gosok gigi lalu tidur

cintamu batu kali dalam beton, kau kecil dibanding gedung bertingkat, tak habis walau digoyang gempa,,,hanya meremah,,,tapi,

menyisakan memori yang tajam dalam ingatan

rapuh aku cinta….semakin jauh aku mengayuh, namun kau menjadi pusaran air lalu menelanku

ampun….mau jadi apa keringat darahku, atau lebih dari 1-2 jam menunggu bus, lalu kecopetan…..habis!!